Senin, 04 Juni 2012

Mata itu ..






Mata itu
Mata yang sering tak sengaja beradu pandang
Dalam rentetan hari dan sepanjang roda jalanan
Tak kukenal namun sosoknya acapkali kutemui
Selalu setia keberadaannya di sisi-sisi jalanan kota
Meski kadang terbersit jengah namun mereka seperti tak mengenal lelah
Barangkali alasan mereka berada, bukan karena diri mereka sendiri
Ada di belakangnya orang-orang yang butuh untuk mereka nafkahi
Doa orang-orang tercinta yang menguatkannya.

Mata itu adalah,
Mata pucat si mas tukang parkir sebuah Rumah Makan di kota-ku
Mas Bule gitu aku nyebut-nya karena tubuh si mas tukang parkir ini berkulit albino, selintas dia mirip orang bule dengan rambut pirangnya yang panjang terkuncir rapi, aku hampir tidak pernah lama menatapnya karena memang sepertinya ia tidak menyukai tatapan tajam kepadanya. Rasanya seperti sedang menatap orang yang maaf memiliki kelemahan/ cacat di salah satu bagian tubuhnya.  Berkulit Albino memang  tidak se-normal orang pada umumnya, menurutku dia terlihat sedikit minder tapi semangatnya tidak padam karena-nya. Acapkali aku melihat kulitnya yang pucat itu menjadi sangat me-merah terkena paparan terik matahari, seolah kulitnya sedang meronta dan menyeringai kepanasan. Subhanallah dia diberi semangat kuat untuk menjalankan mata pencariannya tsb. Dengan peluit di lehernya si mas bule terlihat selalu bersemangat dan sigap mengatur kendaraan yang keluar masuk dari area parkir menuju ke hulu jalan. Salut juga melihat semangat yang terpancar di matanya !     

Mata yang kedua, adalah mata seorang Ibu penjaga kios rokok
Ibu ini adalah yang paling sering beradu pandang denganku, meskipun sampai saat ini pun aku sama sekali belum mengenalnya, Ibu pemilik sebuah kios rokok kecil di pinggir jalan yang posisinya di depan sebuah SPBU dan tepat menghadap pertigaan jalan. 
Mungkin sering kita temui dan terlalu klise untuk diceritakan, tapi tetap saja mataku ini mengantarkan pada segurat pertanyaan kecil di hati.. karena selalu mata kami bertemu di jam-jam yang nyaris sama, jam setengah lima saat aku bergegas menuju rumah sepulang kerja dengan posisi yang selalu sama, Aku memacu motorku dan si Ibu terlihat duduk di kios kecilnya. Sebenarnya sih dia terbilang masih muda, ditemani dengan radio batere-nya sepertinya si Ibu berusaha untuk menghibur diri di tengah-tengah kejemuannya menunggu pembeli rokok eceran yang cuma sesekali singgah, rasanya belum pernah mataku melihatnya sedang melayani pembeli, selalu saja kulihat dia duduk memangku radionya, oh Ibu penjaga kios semoga daganganmu ada yang membutuhkan agar kulihat seulas senyummu tanpa kau harus berusaha menghibur diri dengan radio-mu, I hope so..   

Mata lainnya, adalah sorot lugu Bapak penjual kue tradisional “ kue gandos “. Sebuah kue yang terbuat dari adonan gandum, santan dengan taburan gula putih diatasnya, enak sih tapi.. Di era millennium seperti saat ini tersedia berbagai pilihan menu dan jajanan bertaraf internasional, sebut saja berbagai cake dan fast food merk brand terkenal yang dengan mudah kita pesan, sedang jajanan nusantaranyapun seiring waktu juga makin kaya kreasi seperti aneka jamur crispi, empek-empek, kue lekker, brownies dan yang terakhir yang masih trend adalah aneka kripik rempah pedas berbagai level.  Cara mematut dagangannya-pun terbilang canggih dengan lapak tenda yang cantik dan sistem dagang waralaba yang memungkinkan sang pengusaha membuka cabangnya dimana-mana.. tak ayal menjajakan dagangan dengan alat panggul seperti yang Bapak itu lakukan adalah pilihan cara yang klasik.
Dengan segala keterbatasan dan sisa-sisa kemampuannya, Bapak ini  masih setia mencari nafkah dengan berjualan kue gandos-nya, yang mungkin bagi sebagian orang sudah tidak kenal lagi kue apa itu namanya.  Bahkan maaf, untuk mendekat ke dagangannya saja orang seakan sudah enggan karena terlihat tidak populis dan seakan menghilangkan ke-eleganan mereka. Ironi memang, Bapak penjual kue gandos yang renta yang makin terpinggirkan oleh perubahan zaman. 
Mereka cuma segelintir orang dari sekian banyak lainnya ..




 

Tidak ada komentar: