Mata itu
Mata yang sering tak
sengaja beradu pandang
Dalam rentetan hari dan
sepanjang roda jalanan
Tak kukenal namun sosoknya
acapkali kutemui
Selalu setia keberadaannya
di sisi-sisi jalanan kota
Meski kadang terbersit
jengah namun mereka seperti tak mengenal lelah
Barangkali alasan mereka
berada, bukan karena diri mereka sendiri
Ada di belakangnya
orang-orang yang butuh untuk mereka nafkahi
Doa orang-orang tercinta
yang menguatkannya.
Mata itu adalah,
Mata pucat si mas tukang
parkir sebuah Rumah Makan di kota-ku
Mas Bule gitu aku
nyebut-nya karena tubuh si mas tukang parkir ini berkulit albino, selintas dia
mirip orang bule dengan rambut pirangnya yang panjang terkuncir rapi, aku
hampir tidak pernah lama menatapnya karena memang sepertinya ia tidak menyukai
tatapan tajam kepadanya. Rasanya seperti sedang menatap orang yang maaf
memiliki kelemahan/ cacat di salah satu bagian tubuhnya. Berkulit Albino memang tidak se-normal orang pada umumnya, menurutku
dia terlihat sedikit minder tapi semangatnya tidak padam karena-nya. Acapkali
aku melihat kulitnya yang pucat itu menjadi sangat me-merah terkena paparan
terik matahari, seolah kulitnya sedang meronta dan menyeringai kepanasan. Subhanallah dia diberi semangat kuat
untuk menjalankan mata pencariannya tsb. Dengan peluit di lehernya si mas bule
terlihat selalu bersemangat dan sigap mengatur kendaraan yang keluar masuk dari
area parkir menuju ke hulu jalan. Salut juga melihat semangat yang terpancar di
matanya !
Mata yang kedua, adalah
mata seorang Ibu penjaga kios rokok
Ibu ini adalah yang paling
sering beradu pandang denganku, meskipun sampai saat ini pun aku sama sekali
belum mengenalnya, Ibu pemilik sebuah kios rokok kecil di pinggir jalan yang
posisinya di depan sebuah SPBU dan tepat menghadap pertigaan jalan.
Mungkin sering kita temui dan terlalu klise untuk diceritakan, tapi tetap saja mataku ini mengantarkan pada segurat pertanyaan kecil di hati.. karena selalu mata kami bertemu di jam-jam yang nyaris sama, jam setengah lima saat aku bergegas menuju rumah sepulang kerja dengan posisi yang selalu sama, Aku memacu motorku dan si Ibu terlihat duduk di kios kecilnya. Sebenarnya sih dia terbilang masih muda, ditemani dengan radio batere-nya sepertinya si Ibu berusaha untuk menghibur diri di tengah-tengah kejemuannya menunggu pembeli rokok eceran yang cuma sesekali singgah, rasanya belum pernah mataku melihatnya sedang melayani pembeli, selalu saja kulihat dia duduk memangku radionya, oh Ibu penjaga kios semoga daganganmu ada yang membutuhkan agar kulihat seulas senyummu tanpa kau harus berusaha menghibur diri dengan radio-mu, I hope so..
Mungkin sering kita temui dan terlalu klise untuk diceritakan, tapi tetap saja mataku ini mengantarkan pada segurat pertanyaan kecil di hati.. karena selalu mata kami bertemu di jam-jam yang nyaris sama, jam setengah lima saat aku bergegas menuju rumah sepulang kerja dengan posisi yang selalu sama, Aku memacu motorku dan si Ibu terlihat duduk di kios kecilnya. Sebenarnya sih dia terbilang masih muda, ditemani dengan radio batere-nya sepertinya si Ibu berusaha untuk menghibur diri di tengah-tengah kejemuannya menunggu pembeli rokok eceran yang cuma sesekali singgah, rasanya belum pernah mataku melihatnya sedang melayani pembeli, selalu saja kulihat dia duduk memangku radionya, oh Ibu penjaga kios semoga daganganmu ada yang membutuhkan agar kulihat seulas senyummu tanpa kau harus berusaha menghibur diri dengan radio-mu, I hope so..
Mata lainnya, adalah sorot
lugu Bapak penjual kue tradisional “ kue gandos “. Sebuah kue yang terbuat dari
adonan gandum, santan dengan taburan gula putih diatasnya, enak sih tapi.. Di era millennium seperti saat ini tersedia
berbagai pilihan menu dan jajanan bertaraf internasional, sebut saja berbagai
cake dan fast food merk brand terkenal yang dengan mudah kita pesan, sedang
jajanan nusantaranyapun seiring waktu juga makin kaya kreasi seperti aneka
jamur crispi, empek-empek, kue lekker, brownies dan yang terakhir yang masih
trend adalah aneka kripik rempah pedas berbagai level. Cara mematut dagangannya-pun terbilang canggih
dengan lapak tenda yang cantik dan sistem dagang waralaba yang memungkinkan
sang pengusaha membuka cabangnya dimana-mana.. tak ayal menjajakan dagangan
dengan alat panggul seperti yang Bapak itu lakukan adalah pilihan cara yang
klasik.
Dengan segala keterbatasan
dan sisa-sisa kemampuannya, Bapak ini
masih setia mencari nafkah dengan berjualan kue gandos-nya, yang mungkin
bagi sebagian orang sudah tidak kenal lagi kue apa itu namanya. Bahkan maaf,
untuk mendekat ke dagangannya saja orang seakan sudah enggan karena terlihat
tidak populis dan seakan menghilangkan ke-eleganan mereka. Ironi memang, Bapak
penjual kue gandos yang renta yang makin terpinggirkan oleh perubahan zaman.
Mereka cuma segelintir
orang dari sekian banyak lainnya ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar